Tuesday, February 19, 2013

Harga Buah Impor Naik Tajam

AppId is over the quota

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga buah impor di beberapa pasar dan gudang buah di Jakarta mengalami peningkatan tajam hingga dua kali lipat. Hal ini disebabkan pembatasan kuota impor buah oleh Pemerintah dan biaya bea masuk yang melonjak drastis.

Fakta ini diungkapkan oleh para penjual dan pemilik gudang buah yang ditemui Sabtu (16/2/2013). Susanto, seorang pedagang buah lokal yang sudah 13 tahun berada di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat, mengungkapkan, pada tahun ini sudah berhenti menjual buah impor karena harganya yang naik hingga 100 persen. "Saya tidak sanggup lagi menjual buah impor karena tidak punya modal. bayangkan saja anggur impor dari Amerika Serikat yang dulu saya beli delapan kilogram di gudang buah di Ancol seharga Rp 250.000, sekarang sudah naik hingga Rp 550.000," papar pria asal Jepara ini.

Hal serupa disampaikan Fadlin Mudin, pedagang buah impor di Blok S Pasar Senen Jakarta Pusat. Menurutnya, harga buah lokal seperti salak, melon, Alpukat, sirsak dan jambu masih stabil dengan kenaikan hanya mencapai Rp 1.000 per kilogram. Namun  berbeda jauh dengan harga buah impor yang naik dari 50-100 persen. "Anggur Washington menjadi salah satu buah impor yang harganya melonjak dua kali lipat, dari Rp 40.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram," papar Fadlin   

Ayung, seorang pemilik Gudang Buah di wilayah Sunter, Jakarta Utara, yang mengimpor buah dari sembilan negara di kawasan Eropa, Asia, Afrika dan Amerika ini, menuturkan bahwa dirinya terpaksa menaikkan harga karena bea masuk buah impor juga tinggi. "Bea impor 30 jenis buah dari Amerika Serikat seberat 27 ton, tarif biasanya Rp 80 juta namun saat ini naik sampai Rp 150 juta. Sedangkan bea masuk impor dari China naik dari Rp 20 juta hingga Rp 80 juta," ujar Ayung.

Monday, February 18, 2013

Industri MICE Tumbuh Pesat

AppId is over the quota
RAJI&CO Sebuah pameran di salah satu pusat belanja di Jakarta Selatan.

JAKARTA, KOMPAS.com- Indonesia kini semakin menegaskan posisinya di mata dunia, khususnya dalam industri MICE, melalui berbagai event konferensi internasional yang dihelat di negara kepulauan terbesar di dunia ini. Kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan beragam konferensi internasional memang semakin memperkuat posisi Merah Putih di kancah industri Meeting, Incentives, Convention, and Exhibition (MICE) dunia.

Hal ini tak lepas dari peran pesatnya pertumbuhan perekonomian dan pembangunan di Indonesia yang mempengaruhi berbagai sektor, baik dari sektor dana, infrastruktur, hingga sarana dan prasarana yang memadai, sehingga mampu mendukung persiapan pelaksanaan konferensi-konferensi internasional.

Untuk tahun 2013 saja, deretan konferensi kelas internasional telah menunggu untuk digelar, seperti konferensi tingkat tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Automotive Dialogue 2013.

Hal yang lebih membanggakan adalah ajang konferensi tingkat dunia tersebut akan diselenggarakan oleh perusahaan Professional Convention Organizer (PCO) yang berasal dari negeri sendiri, yaitu PT Dyandra Konvensi Internasional, anak perusahaan dari PT Dyandra Promosindo, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa Professional Exhibition/ Event Organizer (PEO) dan Professional Convention Organizer (PCO) dan menjadi pilar bisnis dari PT Dyandra Media International (DMI).

Semua jenis event yang diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia pasti menjanjikan karena bagus secara bisnis. "Hal itu tak lepas darikeunggulan dalam segi hospitality dan services di Indonesia. Ini adalah kekuatan yang harus kita percayai," ujar Miranti Andreadi, Presiden Direktur PT Dyandra Konvensi Internasional, Sabtu (16/2/2013).

PLTS Kapasitas 1 MW Dibangun di Bali

AppId is over the quota
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Ilustrasi. Petugas PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sedang membersihkan panel surya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Gili Trawangan kapasitas 600 kWp, yang berlokasi di Pulau Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, Selasa (23/10/2012). Pengoperasian PLTS itu untuk meningkatkan kehandalan sistem kelistrikan di kawasan wisata itu dengan energi yang ramah lingkungan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Listrik Tenaga Surya berkapasitas 1 megawatt (MW) dibangun di Bali. Hal ini diharapkan dapat menjadi pendorong pengembangan energi surya bagi kelistrikan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel " Jurus Alternatif Penghematan Konsumsi Bahan Bakar Minyak", Minggu (17/2/2013), di Hotel Mulia, Jakarta.

Jero Wacik menjelaskan, rencananya dalam waktu dekat ia akan meresmikan pengoperasian PLTS skala besar berkapasitas 1 MW di atas lahan seluas dua hektar di Bali. "Ada dua unit pembangkit," ujarnya.

Dengan pengoperasian PLTS skala besar itu, lanjut Wacik, hal ini diharapkan dapat mendorong pengembangan tenaga surya di tempat lain. " Bagi yang hendak membangun PLTS, bisa mencontoh apa yang sudah dibangun di Bali," kata dia.

Total potensi biomassa dan tenaga surya sekitar 50.000 megawatt. " Kalau kita memanfaatkan energi baru terbarukan, itu bisa memenuhi kebutuhan energi nasional jangka panjang," ujarnya.